🎎 Khotbah Pembangunan Gedung Gereja
Gedungbaru ini dibangun selama 4 bulan oleh warga GKJW Jemaat Tempurejo sendiri. Selama waktu tersebut, warga bekerja siang malam agar pembangunan dapat diselesaikan pada waktunya. "Kami beberapa kali bahkan bekerja hingga pukul 12 malam," kata Bapak Budi Doyo, ketua panitia pembangunan Gedung Baru TK YBPK Tempurejo.
Prosespembangunan Gedung Gereja #pos PI #SimbuangMappak
Pekerjaangedung gereja Exodus, dimulai dengan tahap demi tahap sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang terjangkau. semoga Tuhan selalu memberikan berkat ba
102thGedung Gereja Zebaoth, Khotbah Tematik Bagus, Lenny Syafei: Empat Tokoh Akan Bicara JAKARTA, Arcus GPIB - Gedung gereja Zebaoth Bogor berusia 102 tahun. Usia yang tidak singkat dalam perjalanan sejarah gereja tua ini di Kota Bogor yang hadir membawa terang bagi sesama dan seluruh ciptaan-Nya.
Dangereja akan semakin sadar, bahwa membangun komunitas yang erat itu adalah panggilan setiap kita umat percaya. Panggilan dari Yesus sendiri, itu berarti kita harus tunduk dan mau mengikuti, karena jika mau taat melakukan itu akan menyenangkan hati Tuhan Yesus.
PEMBANGUNANGEDUNG GEREJA PERSIAPAN PEMANDIRIAN Hari ini 5 Februari 2022 Mata Jemaat Sontetus Oepua-Jemaat-Oelet ulang tahun yang ke-17. Syukur Ulang Tahun Mata Jemaat dinyatakan dengan peletakan batu pertama pembangunan gedung gereja yang baru untuk persiapan pemandirian mata Jemaat tersebut. Penambahan anggota jemaat membuat gedung gereja yang lama tidak bisa menampung saat beribadah dan
RENCANAPEMBANGUNAN GEDUNG SERBA GUNA DR MANSYUR 22. MINGGU 09 NOPEMBER 2014 KETUA DAERAH KETUA SIDANG Pdt MARBUN 23. KisahParaRasul 2 42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 24. TERIMA KASIH
KhotbahHUT 71 tahun GMIH Saudara-saudara Jemaat yang dikasihi Tuhan.. Hari ini, kita selaku persekutuan orang-orang percaya di lingkungan pelayanan Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) gereja kita GMIH yang ke-71 tahun. Sebuah perjalanan panjang telah kita lewati bersama dalam suka dan duka.
Jikapenjelasan ini diterima, Lukas 14:28-32 tidak terlalu cocok untuk disitir dalam diskusi kita tentang tren pembangunan gereja. Baik mereka yang memilih "jalan dulu" maupun "modal dulu" dalam upaya pembangunan gedung gereja harus tetap mengerti resiko yang akan dihadapi dan tetap berkomitmen untuk menyelesaikan apa yang sudah diputuskan.
Perdaganganmeningkat tajam (8:5a), bahkan berskala internasional (3:9). Pembangunan gedung-gedung makin berkembang (3:15). Jumlah rumah semakin banyak (3:15b; 5:11; 6:8) dan perabotan pun semakin bervariasi (3:10, 12b,15b;6:4a). All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: MENU UTAMA: Alkitab Bahasa Toraja PL BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022
YONASMALIBELLA ketua panitia pembangunan gedung gereja Baru jemaat ekklesia klasaman bersama semua anggota panitia mengucapkan syukur dan terimah kasih lewat pertolongan Tangan Tuhan dan juga atas bantuan semua Donatur dari jemaat maupun pemerintah daerah gedung Gereja yang megah ini sudah bisa terselesai , dan hari ini juga diresmikan sejalan dengan injil masuk ketanah moi sudah 89 tahun.
Pembangunangedung gereja berukuran 27 X 15 meter ini didukung oleh para tukang lokal yang telah dilatih khusus oleh tenaga ahli dari Unwira dan IAI-NTT. Gedung gereja ini membutuhkan biaya kurang lebih 500 Juta Rupiah.
SYtvr7. Saudara-saudara, apakah salah jika kita membuat gedung gereja atau tempat persekutuan atau ruang ibadah kita menjadi lebih baik? Kelirukah kalau gedung gereja kita dibuat indah dan megah? Salah jugakah kalau gedung gereja kita sangat sederhana?Apakah kemudian pembangunan fisik gereja merupakan hakikat dari keinginan Allah bagi gereja kita? Pembangunan seperti apa sesungguhnya yang dirindukan Allah dalam gereja kita? Saudara-saudara, Allah menghendaki kita memperhatikan pembangunan gerejaNya. Pembangunan ini bukan hanya menyangkut pembangunan fisik gedung gereja tetapi lebih dan terutama pada pembangunan spritual jemaatNya. Saudara-saudara paling tidak ada dua sikap Allah terhadap pembangunan gereja. Yang pertama Allah membenci umat yang mengabaikan pembangunan baitNya. Saudara-saudara, kadang kita enggan mendukung pembangunan gereja karena berpendapat bahwa gereja bukanlah gedungnya tetapi gereja adalah orangnya’. Saudara-saudara, apakah benar kita tidak usah membangun gereja berdasarkan pandangan tersebut? apakah yang Allah mau sebenarnya? Saudara-saudara, Hagai adalah seorang Nabi Tuhan, yang diberi tugas menyampaikan isi hati Tuhan pada umatNya. Tugas Hagai secara khusus adalah untuk mendorong atau memotivasi umat untuk membangun bait Tuhan yang masih reruntuhan. Di ayat 16-18, Hagai mengajak umat melihat bagaimana pada masa lampau Allah menghukum mereka karena mereka mengabaikan pembangunan bait Tuhan. Kalimat “sebelum ditaruh batu demi batu untuk pembangunan bait Tuhan” menunjuk pada periode dimana pembangunan diabaikan. Allah menyindir mereka dengan keras di 14 “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang sudah dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” Sikap umat yang mengabaikan pembangunan ini, membuat Tuhan menghukum mereka dengan hama, penyakit gandum serta hujan batu. Hal ini manghancurkan panenan mereka, sehingga mereka hanya memperoleh sedikit sekali. Dan Tuhan tidak melepaskan mereka, sampai mereka membangun baitNya. Saudara-saudara, mengapa bait Tuhan begitu penting bagi Allah untuk dibangun??? Dalam Habakuk 220 ditulis “tetapi Tuhan ada di dalam baitNya yang Kudus”, sehingga dapat dikatakan bahwa bait Tuhan adalah tempat Tuhan menyatakan diriNya, tempat dimana Tuhan dimuliakan. Sehingga pada hakekatnya pengabaian pembangunan bait Tuhan adalah pengabaian Tuhan sendiri. Di ayat 18 ditulis “namun kamu tidak berbalik kepadaKu”. Ayat ini menunjukkan bahwa ketidakpedulian mereka pada bait Tuhan pada dasarnya karena mereka telah mengabaikan Tuhan. Hidup mereka tidak mengutamakan Tuhan lagi. Saudara-saudara, dalam PB, Paulus melengkapi makna bait Tuhan dengan mengatakan “tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah” dan juga berkata “tubuh adalah bait Roh Kudus”. Paulus melihat bahwa bait Tuhan tidak semata-mata sebuah bangunan fisik lagi tetapi pada hakekatnya adalah kehidupan umat Tuhan yang didalamnya Tuhan dinyatakan, kehidupan dimana Tuhan harus diutamakan. Saudara-saudara ingat kisah Ananias dan Safira. Ia memberi persembahan pada para rasul, bisa dikatakan mereka mendukung atau mensupport gereja waktu itu. Tetapi apa yang terjadi, mereka tidak jujur dihadapan Tuhan, hatinya terarah pada harta. Dan Tuhan akhirnya menghukum mereka. Demikian juga dengan Saul yang lebih mendengar suara rakyat dari pada suara Tuhan. Ia tidak membunuh beberapa hewan orang Amalek yang Tuhan perintahkan dengan dalih untuk mempersembahkannya pada Tuhan. Saul mengabaikan perintah Tuhan sehingga Tuhan murka padanya. Persoalan utama mereka bukanlah pada kontribusi mereka pada bait Tuhan atau gereja tetapi pada kehidupan yang tidak mengutamakan Tuhan. saudara-saudara, kalau kita mencermati pembakaran dan penghancuran gereja di Indonesia, tercatat bahwa sampai pada masa pemerintahan Gus Dur, gereja yang dibakar telah mencapai kurang lebih 1000 gereja. Saudara-saudara, di satu sisi kita akui bahwa hal ini merupakan penganiayaan terhadap gereja. Tetapi di sisi yang lain pembakaran gereja bisa saja merupakan suatu peringatan Tuhan atas gereja yang telah bergeser dari pertumbuhan sejati menjadi pertumbuhan fisik atau gedung semata. Kira-kira sama seperti Tuhan menyerahkan mereka ke tangan bangsa Babel karena mereka telah mengabaikan Tuhan. Hal ini bukan tanpa alasan melihat arah pergerakan gereja yang lebih konsentrasi dengan komunitas sendiri, gereja tidak lagi menyuarakan isi hati Tuhan yang sesungguhnya bagi bangsa ini. IKLAN Saudara-saudara, kita juga perlu waspada agar kita jangan sampai mengabaikan pembangunan bait Tuhan baik esensinya maupun secara fisik. Kita sebagai komunitas orang percaya perlu berhati-hati agar tidak terjebak pada pembangunan fisik semata dan melupakan pembangunan pribadi orang-orang dalam gereja untuk tetap tertuju pada Tuhan. Kita adalah hamba Tuhan yang nantinya berperan penting dalam gereja. Kita harus melatih diri untuk memperhatikan kehidupan jemaat agar tetap mengutamakan Tuhan dalam hidup mereka dan di sinilah tempat kita melatih diri. Saudara-saudara jangan abaikan rekan-rekan di sekeliling kita yang bergumul untuk membangun baitNya’, bantu rekan-rekan kita, dukung mereka. Mungkin mereka bergumul tentang firman Tuhan, atau ketika mereka melakukan kesalahan atau dosa bantu dia untuk kembali bangun persekutuan dengan Tuhan. Mungkin mereka berduka, kesulitan keuangan, mulai undur dan meragukan panggilan. Saudara-saudara, jangan abaikan mereka, dukung mereka dalam doa, kuatkan mereka. Tanyakan “apa yang menghambatnya dalam pembangunan bait Tuhan?” dan tolonglah mereka untuk tetap utamakan Tuhan. Saudara-saudara, pembangunan hidup sebagai bait Tuhan bukan berarti mengabaikan pembangunan fisik juga. Kita perlu untuk membangun bait Tuhan atau tempat ibadah secara fisik. Jangan mengabaikan pembangunan di gereja atau di pos pelayanan SM, berkontribusilah! Mendoakan, mendukung dana. Juga terlibat aktif dalam pemeliharaannya. Misalnya melihat sampah berserakan di gereja atau pos pelayanan, bangku-bangku SM yang berdebu, bersihkanlah. Meski ini tugas yang sederhana tetapi Tuhan mau kita jangan mengabaikannya. Sikap Allah yang kedua Allah memberkati orang yang membangun baitNya. saudara-saudara ketika kita taat dan memperhatikan pembangunan bait Tuhan, maka Allah akan memberkati kita dan bersungguh-sungguh terlibat di dalamnya. Saudara-saudara, di bagian yang kita baca ay 19-20. Di sana dinyatakan bahwa pada hari Israel mulai membangun, pada saat itu Tuhan memberkati mereka. “apakah benih masih tersimpan dalam lumbung?” Merupakan suatu pertanyaan untuk mengarahkan Israel untuk melihat benih yang mereka telah tanam, yang tidak lagi dalam lumbung beberapa bulan lagi akan dipanen. Demikian juga “apakah pohon anggur, ara, delima dan zaitun belum berbuah?” Hagai mengajak mereka melihat ke depan memandang berkat Tuhan yang menanti. Tak ada lagi hama, tak ada lagi hujan batu, tak ada lagi kutukan, pohon-pohon ini akan menghasilkan buah. Allah meyakinkan mereka bahwa panen tahun ini akan berlimpah. Allah sedang memberkati mereka. Panen mendatang adalah panen yang penuh dengan kelimpahan. Allah memberkati mereka karena mereka berbalik kepada Allah dan memperhatikan pembangunan baitNya. Saudara-saudara ketika bait suci dibangun pada zaman Ezra, Allah begitu memberkati orang-orang yang membangunnya. Pembangunan ini coba dihambat oleh musuh Israel tetapi Allah campur tangan. Ia memakai Koresh dan Darius untuk menjadi berkat untuk Israel menyelesaikan pembangunan bait Tuhan. Saudara-saudara, demikian juga dengan jemaat mula-mula. Mereka sungguh-sungguh memperhatikan pembangunan bait Tuhan, dalam arti umat Tuhan. Allah memberkati mereka dengan menambahkan terus jumlah mereka dengan orang-orang percaya bahkan menggerakkan orang-orang untuk memberi persembahan mendukung gereja Tuhan waktu itu. Saudara-saudara jelas bahwa Allah memberkati orang yang membangun baitNya. Saudara-saudara, Alkitab telah menunjukkan bahwa ketika orang-orang percaya rindu dan terlibat dalam pembangunan bait Tuhan atau gereja Tuhan, baik secara fisik dan terutama spiritual maka berkat Allah dicurahkan atas mereka. marilah kita sungguh-sungguh memperhatikan pembangunan bait Tuhan. Perhatikanlah gereja atau persekutuan tempat kita melayani sisi manakah yang perlu kita ubah, mana yang perlu dikembangkan. Misalnya kondisi fisiknya, dengan berusaha menjadikan tempat ibadah kita bersih, nyaman memuji Tuhan, saya pikir orang akan senang beribadah di gereja tersebut. Saudara coba perhatikan gereja-gereja dengan jumlah jemaat yang besar, maka saudara akan melihat bahwa gereja tersebut pada satu sisi adalah gereja yang nyaman lingkungannya, bersih, megah, indah sehingga orang senang beribadah di sana. Hal ini tentu saja menjadi tantangan buat kita untuk memperhatikan sungguh-sungguh kondisi fisik gereja kita. Bukan itu saja, saudara-saudara, kita juga perlu memperhatikan kehidupan jemaat sebagai bait Tuhan. Saudara-saudara memang bukalah hal yang mudah kehidupan spiritual jemaat atau anak SM yang kita layani, kita harus memberi waktu untuk komunikasi dengan mereka untuk sungguh-sungguh memahami pergumulannya, berdoa bagi dia dan bahkan tidak jarang harus mengeluarkan uang pribadi untuk kepentingan mereka, membeli renungan harian atau buku-buku rohani yang dapat menolong mereka untuk membangun hidup kerohanian mereka. Tidak mudah saudara. Tetapi percayalah berkat Allah sedang dicurahkan atas kita. Tuhan melihat kesungguhan dan perhatian kita dan Ia memberkati kita. Penutup Saudara-saudara, esensi pembangunan gereja Tuhan adalah pembangunan hidup kita yang mengutamakan Tuhan, tetapi tentu saja tidak mengabaikan pembangunan fisik gereja tempat kita beribadah. Allah akan membenci orang yang mengabaikan pembangunan gerejaNya sebaliknya memberkati orang yang terlibat dalam pembangunan itu. Ketika pembangunan baitNya kita sungguh gumuli, perhatikan dan lakukan maka berkat Allah akan dinyatakan bagi kita seperti janjiNya “Aku akan memberi berkat”. Amin.
“Setelah Daud menetap di rumahnya, berkatalah ia kepada nabi Natan “Lihatlah, aku ini diam dalam rumah dari kayu aras, padahal tabut perjanjian TUHAN itu ada di bawah tenda-tenda”.” 1 Tawarikh 17 1 Keluarga yang bermukim di DKI Jakarta, tentunya memiliki mimpi untuk bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Banyak orang berlomba-lomba untuk bisa punya tempat tinggal – sekalipun harga rumah dan apartemen di DKI Jakarta tergolong mahal, sukar terjangkau oleh generasi milenial. Akan tetapi, kepemilikan tempat tinggal menjadi sesuatu yang didamba dan diupayakan oleh banyak orang, termasuk keluarga-keluarga muda. Jika pada akhirnya bisa memiliki tempat tinggal sendiri, rasanya plong. Pikiran lebih tenang. Hati pun riang dalam mengerjakan segala sesuatunya. Lalu, apa yang terjadi tatkala tempat tinggal sudah bisa dipenuhi? Bukan tidak mungkin, kita akan mengarahkan perhatian pada hal penting lainnya, seperti tabungan pendidikan anak atau kebutuhan lainnya. Hal yang menarik dilakukan oleh Daud, raja Israel. Dalam nas di atas, Daud bercakap-cakap dengan nabi Natan. Tersirat ada pernyataan syukur atas apa yang sudah Daud capai selama ini. Ia sudah berhasil membangun istana di Yerusalem lih. 1 Tawarikh 14 1 – 7; sebuah istana yang begitu megah. Daud katakan istananya terbuat dari kayu aras. Akan tetapi, Daud ternyata gelisah. Apa sebab? Daud sadar betul bahwa pencapaiannya selama ini tidak lain dan tidak bukan karena Tuhan Allah yang telah memberkatinya secara luar biasa. Tapi, tabut perjanjian Tuhan – representasi kehadiran Allah di tengah-tengah bangsa Israel – justru belum memiliki tempat yang permanen, masih disimpan di dalam tenda. Oleh karena itu, Daud menyampaikan kerinduannya kepada nabi Natan untuk membangun rumah Tuhan. Dalam perjalanannya, Tuhan tidak mengizinkan Daud untuk membangun rumah bagi-Nya, tetapi Salomo, putra Daud. Sekalipun begitu, jika kita membaca 1 Tawarikh 28 1 – 29 9, kita melihat bagaimana Daud terlibat dalam berbagai persiapan untuk membangun rumah Tuhan. Daud turut mempersembahkan hartanya untuk membangun rumah Tuhan tersebut lih. 1 Tawarikh 29 2 – 5. Saat ini, kita bersyukur jika GKI Kayu Putih sudah memiliki gedung gereja yang tergolong baik. Dalam perjalanannya Tuhan memberkati dengan pertumbuhan dan perkembangan jemaat. Kita pun dipercaya untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang membangun hidup persekutuan, seperti Sekolah Bina Iman dan House of Grace. Juga, kita tengah mempersiapkan kegiatan yang lebih rutin untuk warga jemaat dengan disabilitas. Belum lagi, kita juga perlu memerhatikan kondisi lingkungan di sekitar gereja, di mana setiap minggu, banyak kendaraan yang parkir di sekitar area perumahan warga. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, Majelis Jemaat GKI Kayu Putih sedang melakukan kegiatan pengadaan dana terkait penambahan gedung dan rencana pembangunan fasilitas pendukung pelayanan yang berlokasi di belakang gedung gereja. Kiranya kerinduan dan semangat Daud untuk membangun rumah Tuhan, bahkan memberikan persembahan guna pembangunan rumah Tuhan, juga dapat menjadi inspirasi bagi setiap kita. Ada perbedaan konteks antara kita dengan rumah Tuhan di zaman Daud. Namun keduanya sama-sama dimaksudkan untuk menunjang peribadahan umat kepada Allah. Marilah kita bawa dalam doa apa yang menjadi kerinduan kita terkait pengadaan dana tersebut, sehingga kita bisa menentukan partisipasi yang tepat seperti yang Allah kehendaki bagi kita. Soli Deo Gloria. Pdt. Natanael Setiadi
Pastor Jeremiah Zhang 1 Raja-Raja 6 & 7 Pasal 6 dan 7 dari 1 Raja-Raja menggambarkan proses pembangunan Bait Suci. Di pasal 71-12 disisipkan tentang Salomo membangun istananya, gedung “hutan Libanon” dan istana untuk putri Firaun. Pembangunan ini bermula setelah Bait Suci selesai didirikan. Pembangunan Bait Suci memakan waktu selama 7 tahun. Menurut 2 Tawarikh 81, Salomo menggunakan 13 tahun untuk mendirikan istananya. Ada yang bertanya pada saya, “Mengapa Salomo membangun istana untuk dirinya yang dua kali lipat lebih besar dari Bait Suci dan mengapa dia memakai 13 tahun untuk mendirikannya – 6 tahun lebih dari membangun Bait Suci? Salomo memberikan yang terbaik dan yang paling megah untuk dirinya sendiri. Bukankah dengan berbuat demikian, dia sedang meninggikan dirinya? Bukankah dia seharusnya memberikan yang terbaik dan termegah untuk Allah? Alkitab selalunya mencatat hal-hal dalam cara yang umum. Catatan Alkitab tidak menyediakan gambaran yang rinci. Dan tidak ada komentar juga tentang hal ini. Kita biasanya membaca Alkitab dengan cara retrospektif. Kita tahu bahwa Salomo meninggalkan Allah saat dia tua. Jadi, kita selalu melihat pada apa yang Salomo lakukan di waktu mudanya dengan pandangan yang miring. Misalnya, kita pikir bahwa pernikahannya dengan putri Firaun adalah suatu dosa; menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain adalah berkompromi dengan dunia; membangun istana yang besar adalah suatu tindakan yang sombong dan meninggikan diri. Tapi, jika Salomo seperti Daud bertekun dalam mengasihi Allah sampai tua, apakah kita masih akan mengkritiknya dengan cara itu? Kita berbicara tentang kebesaran hati, hal ini merupakan pokok yang sangat penting. Kita harus berbesar hati dalam bergaul dengan orang; kita harus berbesar hati saat membaca Alkitab dan berjalan bersama Allah. Mengapa saya berkata demikian? Karena banyak orang Kristen yang sangat sempit hatinya. Allah akan sangat kesulitan untuk memimpin, mengajar dan mengubah orang yang demikian. Petrus adalah contoh yang baik. Sebanyak tiga kali, Roh Kudus memberinya visi untuk memberitakan Injil kepada orang fasik, tapi dia tidak bisa menerima. Dia bahkan berkata kepada Tuhan, “Tidak demikian, Tuhan!” Jadi, kita dapat melihat bahwa jika kita mau Allah menggenapi kehendakNya di dalam hidup kita, kita harus memiliki kebesaran hati. Pemikiran Allah jauh melebihi pemikiran kita. Jika kita tidak menyingkirkan kesempitan hati dan kesempitan konsep agamawi kita, kita tidak mungkin dapat memahami Alkitab. Dan tidaklah mungkin untuk kita memahami kehendak Allah. Bagaimana kita bisa membaca Alkitab dengan kelapangan hati? Caranya adalah untuk tidak memakai pemikiran kita sendiri untuk menafsir Alkitab. Dan membiarkan Roh Allah mengajar kita untuk memahami kehendak Allah. Banyak orang Kristen mengira bahwa Allah adalah seorang tiran yang selalu senang memberikan banyak ketetapan dan hukum untuk mengekang kita. Dia senang melihat kita menderita. Dia akan menjadi iri dan marah kalau kita sedang menikmati sesuatu. Jadi, untuk menjadi umat Allah, kita tidak boleh melakukan sekehendak hati kita. Kita harus menyenangkan Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Allah memiliki sukacita yang tak berkesudahan. Tapi kita tidak boleh mencari sukacita. Banyak orang – termasuk orang Kristen – yang berpikir dengan cara ini. Manusia di dalam kesempitan hati mereka selalu mengira bahwa Allah juga, seperti dirinya, memiliki hati yang sempit. Mengapa kita berasumsi bahwa Allah tidak senang Salomo membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dari Bait Suci? Apakah Allah orangnya kikir? Apakah hati Allah sedemikian sempit? Saya mau membagikan satu perikop dengan Anda. Ulangan 1422-26 Ulangan 1422-26 “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan namaNya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apa pun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu. Di sini yang dibicarakan adalah tentang persepuluhan. Persepuluhan yang dipersembahkan oleh orang Israel datangnya dari hasil ladang atau ternak. Ayat 23 berkata bahwa persembahan persepuluhan adalah untuk mengajar umat Allah untuk takut pada Allah. Karena hal ini merupakan ungkapan jasmani dari ketundukan kita pada kedaulatan Allah. Lewat persembahan persepuluhan ini, kita menghormati Dia sebagai Pencipta dan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki datangnya dari Dia. Persembahan persepuluhan hanya untuk mengembalikan apa yang telah Dia berikan pada kita. Persembahan persepuluhan bangsa Israel dibawa ke Tabut Allah dan dipersembahkan kepada Allah. Jika perjalanannya terlalu jauh, Allah mengizinkan mereka untuk menguangkan persembahan persepuluhan mereka dan membawanya ke Bait Suci Allah. Saat mereka tiba di tempat, mereka akan bisa memakai uang itu untuk membeli sapi, domba, anggur atau minuman keras yang mereka ingin makan dan minum. Lalu, mereka akan mempersembahkan semuanya pada Allah. Mereka bisa menikmati di hadapan Allah sebagian dari persembahan itu sebelum mereka berangkat pulang. Perhatikan kata-kata “apa pun yang diingini hatimu” di ayat 26. Allah mengizinkan umatNya untuk mengingini sesuai dengan hati mreka. Apa saja yang mereka mau makan, mereka bisa mempersembahkannya pada Allah. Dengan cara ini, mereka juga bisa menikmatinya. Allah berkehendak untuk mereka makan dan minum dengan penuh sukacita bersama keluarga mereka di depan Allah – kehendak Allah bagi umatNya adalah untuk selalu bersukacita. Allah bukanlah tiran sebagaimana yang kita pikirkan. Dia sangat menghendaki kita untuk menikmati kehidupan kita sesuai dengan keinginan hati kita. Segala sesuatu sudah dia karuniakan pada kita untuk dinikmati. Tidaklah mengherankan Paulus di 1 Timotius 617 memuji Allah sebagai “Allah yang hidup yang telah mengarunia dengan limpahnya segala sesuatu untuk dinikmati”. Inilah kehendak Allah. Dia tidak bermaksud untuk mengekang kita, membuat kita menderita. Kita tidak dapat menikmati kehidupan kita sesuai dengan keinginan hati kita bukan karena Allah melarangnya. Hal ini adalah dikarenakan dosa dan keegoisan kita yang membuat hidup kita sengsara. Karena itu ayat 23 pertama-tama menyebut tentang takut akan Allah, lalu berbicara tentang “apa pun yang diingini hatimu” dan “haruslah engkau makan dan minum dan bersukacita.” Kehendak Allah adalah untuk kita takut akan Dia, hidup sesuai dengan kehendakNya. Hanya dengan cara ini, kehidupan kita akan menjadi berkelimphan, sukacita dan puas. Jika Salomo takut akan Allah dan menepati semua perintah dan ketetapan Allah dengan segenap hatinya, dia bisa melakukan sesuai dengan keinginan hatinya. Allah tidak akan marah. Kehendak Allah adalah bagi bangsa Israel menikmati kehidupan sesuai dengan keinginan hati mereka. Jadi, di 1 Raja-Raja 611-12, Allah memperingatkan Salomo untuk menepati perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan hukum-hukumNya. Allah menginginkan Salomo untuk menjadikan dirinya teladan untuk mengajarkan pada bangsa Israel takut akan Allah. Karena hanya pada saat manusia takut pada Allah, dia bisa dengan bebas mengingini sesuai dengan kehendak Allah dalam menjalani kehidupannya. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang sungguh-sungguh bahagia dan merdeka. Kita harus mengkaji ulang pandangan kita tentang Allah. Jangan membayangkan Allah sebagai seorang tiran yang kikir dan sempit hatiNya. Anda harus menanggalkan semua konsep yang keliru tentang Allah. Kita harus memakai kebesaran hati untuk mengenal dan mempelajari firmanNya. Dalam cara ini, Anda akan sepenuhnya mempunyai ide yang baru tentang Allah. Saat Anda mempelajari Alkitab, Anda akan menemukan banyak pencerahan yang tidak Anda lihat sebelumnya. Pasal 6 dan 7 menyebut tentang proses pembangunan Bait Suci. Pembangunan Bait Suci juga menubuatkan tentang pembangunan gereja. Tujuan akhir dari keduanya adalah untuk mengundang Allah untuk berdiam di tengah-tengah umatNya. Lewat ini, kita dapat memuliakan nama Allah dan menarik umat dari semua bangsa untuk berpaling pada Allah. Jadi, di 1 Raja-Raja 611-13, Allah memperingatkan Salomo tujuan pembangunan Bait Suci. Allah juga memperingatkan dia bahwa Bait Suci tidak dapat mengambil tempat ketundukan mereka pada Allah. Hanya saat kita tunduk pada Allah dan menepati kehendakNya, Allah akan berada di tengah-tengah umatNya. Daudlah yang menyarankan rencana pembangunan Bait Suci. 1 Tawarikh 28-29 mencatat sumbangan Daud terhadap pembangunan Bait Suci. Hari ini, kita akan melihat pada 1 Raja-Raja 7-8 dan 1 Tawarikh 28-29 untuk memahami prinsip-prinsip pembangunan Bait Suci. Memahami prinsip-prinsip ini membantu mereka yang melayani Allah untuk memahami bagaimana membangun gereja sesuai dengan kehendak Allah. 1 Daud mendirikan Bait Suci karena kasihNya pada Allah Setiap kali Alkitab menyebut tentang pembangunan Bait Suci, nama Daud akan disebut. Walaupun yang bertanggungjawab dalam pembangunan Bait Suci adalah Salomo, tapi Daudlah yang memunculkan gagasan ini. Karena Daud mengasihi Allah dan mau membalas kebaikan Allah, jadi dia merencanakan untuk membangun suatu tempat tinggal yang permanen bagi Allah. Dia juga melakukan banyak persiapan dan menyediakan banyak persembahan untuk pembangunan Bait Suci. Itulah alasan mengapa Daud disebut sebagai orang yang di balik pembangunan Bait Suci. Di pasal 28 dari 1 Tawarikh, Daud menyebut alasan di balik pembangunan Bait Suci kepada para pemimpin Israel. Alasan pertama adalah karena dia mengasihi Allah. Kita melihat di 1 Tawarikh 292-3 1 Tawarikh 292-3 Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tamabahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri. Dari beberapa ayat ini, kita dapat merasakan betapa mendalamnya kasih Daud pada Allah. Karena Daud mengasihi Allah, jadi dia mengasihi rumah Allah. Dia berharap untuk mendirikan suatu tempat yang permanen untuk Allah secepat mungkin supaya dia dapat mengundang Allah untuk tinggal di tengah-tengah umat Israel. Allah sangat senang dengan apa yang mau Daud lakukan. Tapi karena Daud adalah seorang prajurit yang telah membunuh dan menumpahkan darah banyak orang, jadi Allah tidak mengizinkan dia untuk mendirikan Bait Suci, karena Rumah Allah adalah rumah doa bagi semua dan rumah damai. Dan hanya raja damai yang layak untuk mendirikan rumahNya. Sekalipun demikian, Allah masih menghargai keinginan Daud. Jadi, Dia berjanji pada Daud bahwa anaknya, Salomo akan mengambil tempat dia dalam menggenapi keinginannya mendirikan Bait Suci. Yang Allah hargai adalah hati Daud, bukannya Bait Suci. Tentu saja, karena Allah berkenan pada Daud, jadi Allah juga berkenan pada keingingan hati dan persembahan dari Daud ini. Hal ini mengingatkan kita pada motif hati dalam bekerja untuk Allah dan melibatkan diri dalam mendirikan gereja, semuanya ini harus dilakukan karena kasih kita pada Allah. Jika tidak, Allah tidak akan berkenan dan tidak akan menerima semua yang telah kita lakukan. Semua orang tahu tentang kasih Daud pada Allah. Kita dapat merasakan hal itu saat kita mempelajari Mazmur. Kiranya kita semua belajar dari Duad untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan akal budi kita. 2 Daud mempersembahkan segala sesuatu untuk mendirikan Bait Suci Kasih Daud pada Allah bukanlah sekadar ngomong saja tanpa perbuatan. Daud tidak memakai uang dari kas negara untuk mendirikan Bait Suci. Dia tidak meminta orang banyak untuk menyumbang uang demi pembangunan Bait Suci. Daud mempersembahkan semua uang tabungannya untuk mendirikan Bait Suci. Kita melihat pokok ini di 1 Tawarikah 292-3. Sekalipun Allah tidak mengizinkan Daud untuk mendirikan Bait Suci, dia masih mengambil inisiatif untuk mempersembahkan apa yang dimilikinya untuk mendirikan Bait Suci. Dia mempersiapkan emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu-batu berharga untuk Bait Suci. Semua uangnya diberikan untuk bait Allah. Kasih Daud pada Allah diungkapkan dalam persembahannya yang tanpa batas pada Allah. Tentu saja, mengandalkan kekuatan keuangan satu orang, tidaklah cukup untuk mendirikan Bait Suci. Sekalipun persembahan Daud sangat besar, tapi tidak cukup untuk proyek besar mendirikan Bait Suci. Jadi, Daud harus meminta umat untuk memberikan persembahan demi pendirian Bait Suci. Kita baca di 1 Tawarikah 292-9 1 Tawarikah 292-9 gan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri tiga talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan, yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?” Lalu para kepala puak daan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya. Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. Siapa yang mempunyai batu permata menyerahkannya kepada Yehiel, orang Gerson itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN. Bangsa itu bersukacita karena kerealaan mereka masing-masing sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita. Membangun Bait Suci atau melakukan pekerjaan Allah tidak boleh mengandalkan kekuatan satu orang. Jadi, Daud memanggil para pejabat dan pemimpin untuk mengambil bagian dalam mempersembahkan persembahan bagi pembangunan Bait Suci. Mereka dengan penuh kerelaan mempersembahkan emas, perak, tembaga, besi dan batu-batu permata. Umat dengan tulus dan penuh kerelaan mempersembahkan pada Allah. Allah juga mengaruniakan kepada umat Israel dan Daud sukacita yang besar. Kita dapat melihat prinsip spiritual di sini bagi mereka yang dengan penuh sukacita dan penuh kerelaan mempersembahkan pada Allah, mereka akan mengalami sukacita dari Allah karena Allah sangat senang dengan persembahan yang demikian. Berikanlah perhatian pada pokok ini. Mengapa orang dengan tulus rela memberikan persembahan? Hal ini adalah dikarenakan persembahan Daud yang tanpa batas pada Allah. Daud mempersembahkan semua yang dimilikinya. Teladan dari Daud merupakan satu motivasi bagi mereka. Jadi, kita dapat melihat bahwa gembala harus menjadikan dirinya teladan untuk diikuti oleh orang lain. Dia tidak seharusnya hanya memakai mulutnya untuk berkata bahwa dia mengasihi Allah, dia harus mempersembahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Persembahan semacam ini sangat menyenangkan Allah. Persembahan diri kita seutuhnya pada Allah akan mendorong orang lain untuk lebih lebih lagi mengasihi Allah. 3 Bait Suci didirikan sesuai dengan cetak biru dari Allah Saat Anda membaca pasal 6-7, Anda pasti akan bertanya Terdapat perbedaan yang besar di antara Bait Suci yang didirikan oleh Salomo dengan Kemah yang dari Musa. Salomo mendirikan Bait Suci dan segala sesuatu di dalamnya berdasarkan rencana atau cetak biru dari siapa? 1 Raja-Raja 6-7 tidak memberikan kita jawabannya. Tapi kita dapat menemukan jawabannya di 1 Tawarikah 2811-19 1 Tawarikah 2811-19 Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup perdamaian. Selanjutnya rencana dari segala dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus; mengenai rombongan-rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN. Juga ia memberikan emas seberat yang diperlukan untuk segala perkakas pada tiap-tiap ibadah; dan diberikannya perak seberat yang diperlukan untuk segala perkakas-perkakas pada tiap-tiap ibadah, yakni sejumlah emas untuk kandil-kandil emas dan lampu-lampunya yang dari emas, seberat yang diperlukan tiap-tiap kandil dan lampu-lampunya, dan perak untuk kandil perak seberat yang diperlukan perak untuk satu kandil dan lampu-lampunya, sesuai dengan pemakaian tiap-tiap kandil dalam ibadah. Kemudian diberikannya sejumlah emas untuk meja-meja roti sajian, meja demi meja, dan perak untuk meja-meja dari perak; selanjutnya emas murni untuk garpu-garpu, dan bokor-bokor penyiraman dan kendi-kendi, juga untuk piala-piala dari emas seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala, dan perak untuk piala dari perak seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala; juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub, yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian TUHAN. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu. Allah sebenarnya sudah lama telah menyingkapkan cetak biru untuk pembangunan Bait Suci. Daud mencatat setiap detil dari Bait Suci, termasuk pembagian suku Lewi. Daud tidak memberitahu kita bagaimana Allah menyingkapkan semua hal itu kepadanya, besar kemungkinan melalui para nabi. Sekalipun Allah tidak mengizinkan Daud membangun Bait Suci, Allah menghargai Daud dan mengaruniakan kepadanya penghargaan khusus ini karena kasih Daud kepadaNya. Allah menyingkapkan rencana atau cetak biru untuk pembangunan Bait Suci hanya kepada Daud dan Daud memberikan arahan kepada Salomo. Ini menunjukkan bahwa hubungan Daud dengan Allah sangatlah luar biasa. Walaupun Salomo yang membangun Bait Suci, Allah memberikan pujian dan kemuliaan kepada Daud sebagai yang membangun Bait Suci. Tidaklah mengherankan bahwa 1 Raja-Raja seringkali menempatkan Daud dan pembangunan Bait Suci itu bersama-sama. Seringkali saat Alkitab berbicara mengenai janji tentang pembangunan Bait Suci, nama Daud akan muncul. Pokok ini juga mengingatkan kita bahwa sekiranya kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan akal budi dan mempersembahkan yang terbaik bagiNya, Allah akan sangat senang menyingkapkan kehendakNya kepada kita. Jika kita mendirikan gereja menurut kehendakNya, pekerjaan kita akan efektif. Sebaliknya, jika kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak kita sendiri, pelayanan kita tidak akan berdampak. Sekalipun ada sedikit dampak, tapi pekerjaan kita tidak akan bertahan. 4 Bait Suci dibangun dengan materi yang terbaik Bahan bangunan yang utama untuk pembangunan Bait Suci adalah batu yang besar, aras, zaitun emas dsbnya. Batu-batu yang besar dipakai untuk pembangunan tembok luar. Ayat memberitahu kita bahwa Salomo mengutus orang ke gunung untuk melinggis batu-batu yang besar dan mahal. Ini bukan batu-batu yang biasa. Mereka adalah batu-batu yang berharga yang sudah dibentuk oleh pemahat-pemahat. Hanya batu-batu yang sudah dipahat yang dapat digunakan untuk membangun Bait Suci. Kayu aras dikirim dari Tirus yang jauh lewat laut ke Yafo. Kayu-kayu itu kemudian dikirim ke Yerusalem dari Yafo. Transportasi pada waktu itu sangat sulit karena tidak ada jalan yang bagus dari Yafo ke Yerusalem. Batu-batu besar dan kayu aras merupakan bahan-bahan yang sangat mahal. Belum lagi bahan-bahan seperti emas yang bahkan lebih mahal lagi. Salomo memilih bahan-bahan yang terbaik untuk mendirikan Bait Suci. Sekalipun Bait Suci ini bukan untuk Allah yang tidak membutuhkan tempat tinggal, namun Bait Suci ini memanifestasikan kemuliaan Allah. Jadi membangun Bait Suci harus memakai bahan-bahan yang paling bagus. Kita telah melihat di PA yang lalu bahwa batu, aras, zaitun dan emas dll, adalah bahan-bahan yang melambangkan manusia. Membangun gereja adalah untuk memimpin orang untuk mengenal Kristus di mana melaluinya orang bisa menjalin hubungan dengan Allah. Para penginjil bukan saja membawa orang untuk percaya pada Kristus, mereka juga harus memimpin mereka untuk bertumbuh sesuai dengan kehendak dan rencana Allah. Dan menuntun mereka untuk mengeluarkan aroma Kristus. Gereja membutuhkan orang Kristen yang dewasa untuk bersinar untuk Allah, untuk memuliakan Allah. Jadi membangun jemaat adalah suatu misi yang sangat sulit. Jika para hamba Tuhan itu sendiri tidak mempersembahkan diri mereka sepenuhnya dan tidak melayani dengan segenap hati dan pikiran, mereka tidak akan mengalami kemurahan Allah untuk menggenapi misi mereka. Jadi, kita harus ingat bahwa membangun jemaat bukan berarti memimpin orang dengan begitu saja dan secara sembrono mempercayai Yesus. Membangun jemaat berarti memimpin orang lain untuk bertumbuh dewasa untuk menjadi bahan bangunan yang berharga yang dapat dipakai oleh Allah. Batu dan kayu apa saja dapat dipakai untuk membangun sebuah rumah. Tapi kualitas sebuah rumah dan apakah kualitas rumah itu bagus atau jelek bergantung pada materi apa yang kita pakai. Hanya apabila kita memakai bahan yang paling bagus untuk membangun, pembangunan kita itu dapat bertahan melewati ujian Allah dan menyenangkan Allah. Kita baca di 1 Ko. 312-13 1 Korintus 312-13 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Pekerjaan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pekerjaan membangun jemaat. Dia mengingatkan setiap pelayan Tuhan bahwa kita harus tahu dengan bahan apakah yang akan kita pakai untuk membangun gereja. Karena pekerjaan kita akan diuji oleh Allah. Allah akan memakai api untuk menguji pekerjaan kita. Pekerjaan yang dibangun dengan memakai jerami dan rumput kering akan terbakar. Itu berarti hanya materi yang terbaik yang akan diterima oleh Allah. 5 Bait Suci dibangun di tengah-tengah kedamaian 1 Raja-Raja 67 berkata Pada waktu rumah itu didirikan, dipakailah batu-batu yang telah disapkan di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besi pun selama pembangunan rumah itu. Kita dapat membanyangkan seluruh proses pembangunan Bait Suci dilaksanakan dalam keadaan damai dan tenang. Hal ini sangat berbeda dengan pembangunan yang kita lihat. Alat-alat besi adalah simbol untuk usaha manusia. Ini berarti kita tidak seharusnya memakai usaha manusia untuk melakukan pekerjaan Allah. Banyak hamba Tuhan memakai ide, kemampuan dan semangat mereka sendiri untuk melakukan pekerjaan Allah. Hasilnya adalah pepecahan, kekacauan dan perselisihan. Para hamba Tuhan harus sehati sepikir, dan tunduk pada pimpinan Allah, dengan demikian pelayanan mereka akan membuahkan hasil. Pelayanan semacam ini tidak akan bising, tidak akan ada pertengkaran. Hanya dengan tunduk pada Allah, akan ada damai dan ketenangan. Kiranya pokok-pokok di atas dapat membantu kita untuk mengerti bagaimana melayani Allah, dan membangun jemaat sesuai dengan kehendak Allah. Di PA yang akan datang, kita akan melihat pada pasal 8, yaitu tentang upacara mempersembahkan Bait Suci. Berikan Komentar Anda
khotbah pembangunan gedung gereja